Tuesday, November 11, 2008

Ulasan yang Lebih Adil untuk Trio Syuhada - Mereka Juga Manusia


BAGI trio pengebom berani mati tragedi Bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra, digelar teroris oleh media massa tempatan dan antarabangsa, atau oleh siapapun juga, tidak membuat mereka marah atau kecil hati. Mereka yakin, apa yang mereka lakukan adalah jihad. Sehingga mereka pun yakin Allah akan memberi mereka gelar mujahid.

Bahkan, mereka sama sekali tidak merasa keberatan dengan apapun yang ditempuh pemerintah di dalam menjalankan hukuman mati atas diri mereka. Ditembak mati dengan bedil, dipancung, dialiri listrik, atau cara lainnya, bagi mereka sama saja. Semuanya menuju mati syahid. Bagaimana kita memposisikan Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra : Mujahid atau Teroris?

Yang jelas, mereka juga manusia. Sebagai manusia, mereka termasuk yang mempunyai ketaatan kepada ajaran agamanya, mempunyai keseriusan di dalam mendalami ajaran agamanya, mempunyai keberpihakan kepada umat Islam.

Kalau akhirnya ada yang menilai mereka mengalami kesilapan di dalam memaknai dan mempraktikkan jihad, itu urusan mereka dengan Allah. Bagi yang sepaham dengan ‘ijtihad’ mereka, maka Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra adalah Mujahid. Sebaliknya, bagi yang tidak sepaham, ketiganya digelar Teroris.



Yang jelas, mereka juga manusia. Sebagai manusia, mereka termasuk yang mempunyai ketaatan kepada ajaran agamanya, mempunyai keseriusan di dalam mendalami ajaran agamanya, mempunyai keberpihakan kepada umat Islam.

Kalau akhirnya ada yang menilai mereka mengalami kesilapan di dalam memaknai dan mempraktikkan jihad, itu urusan mereka dengan Allah. Bagi yang sepaham dengan ‘ijtihad’ mereka, maka Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra adalah Mujahid. Sebaliknya, bagi yang tidak sepaham, ketiganya digelar Teroris.

Alumni Afghan
Dua dari trio pengebom mati Bali I adalah bekas pejuang Afghan. Ali Ghufron alias Mukhlas adalah pejuang Afghan peringkat kedua (masuk pada akhir 1987), satu angkatan dengan Abu Rushdan dan Mustapha alias Pranata Yudha. Sedangkan Imam Samudra angkatan kesembilan (masuk pada tahun 1991), seangkatan dengan Ali Imran (adik Ali Ghufran alias Mukhlas, yang juga terlibat siri Bom Bali I namun tidak hukuman mati).

Rombongan pertama dari Indonesia yang berjihad ke Afghan terjadi sekitar akhir 1984 hingga awal 1985, antara lain diikuti oleh Sa’ad alias Ahmad Roihan, yang juga terlibat dalam kes Bom Bali I, bahkan beberapa siri peledakan sebelumnya. Abu Dujana menutup rombongan warga Indonesia berlatih askar untuk berjihad di Afghan. Abu Dujana sebagaimana Ahmad Roihan juga sudah ditangkap.


Tidak! Meski mereka tahu CIA berada di belakang ‘projek’ Afghan, tekad dan semangat jihad mereka membebaskan Muslim Afghan dari penjajahan rezim komunis Soviet, dapat mengalahkan realiti itu.

Sebagai superpower AS seharusnya mampu mengirimkan sejumlah pasukannya untuk mengusir komunisme Soviet dari Afghanistan. Namun masa itu AS belum pulih dari trauma akibat mengalami kekalahan siginfikan pada perang Vietnam yang berlangsung sejak 1961 hingga 30 April 1975. AS kehilangan lebih dari 58.000 prajuritnya dan menghabiskan lebih dari 15 milion dollar AS.

Presiden

AS terpilih, Kennedy, pada tahun 1961 mengirimkan 400 tentara ke Vietnam. Tahun berikutnya, Kennedy menambah pasukannya di Vietnam menjadi 11.000 tentara. Di tahun 1968, AS mengirimkan 500 ribu pasukannya ke Vietnam, belum termasuk berbagai pasukan dari Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Filipina dan Thailand yang berjumlah 90.000 orang.

Perang Afghan sendiri berlangsung awal 1980-an hingga awal 1990-an. AS tidak mau mengorbankan prajuritnya sebagaimana terjadi di Vietnam. Maka, pilihan jatuh kepada pemuda Islam di pelosok dunia yang terkenal dengan semangat jihadnya, termasuk dari Indonesia. Osama bin Laden menjadi figure yang sangat penting, di samping tokoh-tokoh lainnya, di dalam merekrut pemuda-pemuda Islam yang mau berjihad ke Afghan.

Membangkitkan Harimau


Sejak 1990 hingga 1995, pejuang Afghan berasal Indonesia berangsur-angsur pulang ke tanah air. Sebagian melanjutkan jihadnya ke Moro (Philipina), menghidupkan Kamp Hudaibiyah hingga akhir 1990-an.

Di Afghan, sebelum berjihad mereka melengkapi diri di Kamp Latihan dengan berbagai bentuk, seperti menggunakan senjata, kursus mengenali berbagai jenis bahan kimia dan meracik bahan peledak (bom), kursus menggunakan tank tempur, latihan tempur pada berbagai medan perang. Namun ketika kembali ke tanah air, keterampilan itu sama sekali tidak digunakan untuk melakukan aksi teror. Karena, mereka sama sekali tidak bercita-cita menjadi teroris, apalagi di negerinya sendiri.

Akan tetapi sejak tragedi 25 Desember 1998, ketika umat Islam sedang menjalankan shaum Ramadhan, dan umat Kristiani masih dalam suasana krismas yang seharusnya damai penuh kasih.

Tiba-tiba kedamaian itu dirobek-robek oleh pemuda kristian yang dalam keadaan mabuk memasuki Mesjid kemudian membunuh Ridwan.

Inilah unsure-unsur pengalak jihad peringkat pertama.

Sekitar tiga pekan kemudian, 19 Januari 1999 pecah lagi tergedi Ambon, yang dirasmikan dengan aksi keganasan yang dilakukan pemuda Kristen terhadap dua pemuda Muslim.

Konflik berlanjut secara meluas dan berdarah-darah. Hingga puncaknya terjadi pada 24 Desember 1999 hingga 7 Januari 2000, yang dinamakan tregedi Tobelo-Galela, dengan korban terbanyak dari kalangan Muslim. Ada yang menyebutkan jumlah korban mencapai 3000 jiwa, dan 2800 di antaranya Muslim.

Menurut versi Gus Dur, korbannya hanya lima orang. Sedangkan menuruut versi Max Tamela, Pangdam Pattimura kala itu, korban yang diakuinya berjumlah 771 jiwa, majoriti Muslim.

Disebaliknya diketahui, pada tragedi pembantaian di Tobelo-Galela ini, ada keterlibatan Sinode GMIH (Gereja Masehi Injil di Halmahera), yang merancang penghijrahan umat Kristen ke Tobelo berjumlah sekitar 30.000 orang. Pemindahan dilakukan secara bertahap sejak pertengahan November hingga awal Desember 1999. Bahkan, pada Jumat 24 Desember 1999 dengan alasan pengamanan gereja, diangkut ratusan warga kristen dari Desa Leloto, Desa Paso dan Desa Tobe ke Tobelo. Mereka datang menaiki truk dengan berbagai senjata perang seperti kain ikat kepala berwarna merah, tombak, parang dan panah.

Mei 2000, pecah lagi tregidi Poso ketiga. Ratusan warga pondok Walisongo, diserang oleh Tibo dan kawan-kawan. Disebalik kejadian itu diketahui, ada keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena. Juga, sejumlah tokoh (16 orang), sebagaimana disebutkan Tibo sebelum dihukum mati.

Peristiwa-peristiwa itu ibarat membangkitkan harimau yang sedang istirahat. Maka meledaklah aksi keganasan yang pertama kali dilakukan para bekas pejuang Afghan, yaitu peledakan Bom di Kediaman Kedubes Philipina. Aksi peledakan itu terjadi pada tanggal 01 Augst 2000. Alasannya, para pelaku pemboman menduga Philipina secara rasmi turut mengirimkan senjata ke Ambon (Maluku) yang kala itu sedang konflik, dan tentu saja menguntungkan salah satu pihak iaitu kumpulan merah (kristen).

Kemudian, pada malam krismas 24 Desember 2000, terjadi ledakan di sejumlah gereja di berbagai kota di Indonesia, seperti di depan Gereja Katedral (Jakarta Pusat), Gereja Santo Yosef, dan halte bus sekolah katolik Marsudi Rini di Jalan Matraman Raya (Jakarta Timur), Gereja Koinonia (di Jatinegara, Jakarta Timur), juga gereja dan sekolah Kanisius, Jalan Menteng Raya (Jakarta Pusat). Pengeboman juga terjadi di dekat gereja di Medan, Sumatera Utara, Mojokerto Jawa Timur, Mataram NTB dan Pekanbaru dan Batam Riau, serta Bekasi. Alasannya jelas, merupakan peringatan keras kepada kalangan Kristen terutama tokoh rohaniwan, yang sejumlah petinggi gerejanya justru menjadi aktor intelektual tragedi pembantaian Muslim di Ambon (Maluku) dan Poso.

Februari 2001 terjadi lagi pengusiran dan pembantaian terhadap warga Madura di Sampit, yang dilakukan oleh Dayak Kristen dan animis. Tragedi Pemenggalan kepala warga Madura oleh suku Dayak dilakukan secara demonstratif di siang hari dan di depan kamera TV tempatan dan antarabangsa yang sedang meliput. Dua bulan kemudian, April 2001, pecah lagi tregidi Poso ke-empat.

Meski tidak ada kaitannya dengan tragedi Sampit, Ambon dan Poso, yang jelas pada 11 September 2001, terjadi tragedi WTC 911 di negerinya Bush. Tudingan teroris yang dilekatkan kepada Islam, mulai disosialisasikan Bush. Kekhawatiran Bush terhadap aksi terorisme yang dilekatkan kepada Islam, ibarat senjata makan tuan. Perang melawan terorisme pun dicanangkan, karena AS (CIA) yang paling tahu kualiti mujahid alumni Afghan. Ibarat sang guru yang tahu betul kualiti murid-muridnya.

Setahun kemudian, 12 Oktober 2002, barulah meledak tragedi Bom Bali I yang menewaskan 202 korban jiwa dan 350 orang lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan. Secara keseluruhan, korban tewas pada tregidi Ambon, Poso dan Sampit, terutama dari pihak Islam, jumlahnya puluhan bahkan ratusan kali jauh lebih besar dibandingkan dengan korban tewas pada kasus Bom Bali I dan II.

Kurang setahun dari kasus Bom Bali I, terjadi peledakan di depan lobi Hotel JW Marriott, tanggal 5 ogos 2003 sekitar pukul 12.40 wib, menyebabkan 10 orang mati dan 152 cedera. Setahun kemudian, terjadi Bom Kuningan (9 September 2004), di depan Kedubes Australia jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Setahun kemudian, terjadi Bom Bali II (01 Oktober 2005). Sekitar sebulan kemudian, Doktor Azhari yang selama ini menjadi hantu teroris berjaya ditembak mati, di kawasan Batu, Malang, pada 09 November 2005.

Objektif dan Adil
Pasca tertembaknya Azahari, pelaku pengebom betul-betul terhenti, sampai ketika ini. Namun, potensi teror tetap ada, bila merujuk pada adanya penangkapan di Palembang (01 Juli 2008) dan Kelapa Gading (21 Oktober 2008), yang menjadikan sasaran peledakannya Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara.

Meski Azahari sudah ditembak mati, dan tiga ratusan anggota jaringan teroris sudah ditangkap, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Abu Dujana, para pengamat pun menyatakan ketuanya tentang potensi Jama’ah Islamiyah tinggal sepuluh persen saja namun potensi teror dinyatakan tetap ada, bahkan pihak kepala tentra Indonesia yang baru menyebutkan terorisme kini ada di mana-mana. Dengan alasan, Noordin M Top yang selama ini dituduh melakukan penrekrut terorist, masih belum tertangkap. Artinya, meski Amrozi cs ditembak mati sekalipun, potensi teror masih tetap tinggi.

Lantas, bagaimana menterjemahkan potensi teror sebagaimana terjadi selama ini? Semua pihak terutama pemerintah harus bersikap objektif dan berlaku adil lihat akar masalahnya. Ini respinya. Akar masalahnya, pertama, ada pembantaian yang dilakukan umat Kristiani terhadap umat Islam baik di Ambon (Maluku) maupun di Poso. Ini bukan konflik biasa. Fakta ini diabaikan, bahkan dipaksakan menjadi konflik biasa, yang dimulai dari adanya pertikaian antara kedua belah pihak. Padahal, faktanya tidaklah demikian.

Yang terjadi sesungguhnya adalah ummat non Muslim (Kristen-Katholik) sebagai pihak yang memulai pertikaian ini, yang diyakini ada keterlibatan gereja serta tokoh-tokoh masyarakat Kristen-Katholik di sana sebagai perancang aksi (aktor intelektual). Mereka memulai penyerangan dan pembunuhan, sedangkan ummat Islam hanya melakukan mempertahankan diri dan membalas, sekaligus dalam rangka mempertahankan diri. Bantuan yang datang dari luar titik konflik, karena ummat Islam menyadari posisi kerajaan baik pusat maupun daerah memberi tumpuan berat sebelah, sama sekali tidak melindungi masyarakat muslimnya.

Akar masalah kedua, sikap tidak iklas kalangan Kristen-Katholik (dan kemudian Hindu). Sikap berpura-pura ini terjadi terutama di daerah-daerah tertentu yang majoriti penduduknya non-Muslim. Pengusiran hingga pembantaian (muslim cleansing) terjadi di beberapa daerah-daerah ini. Sedangkan di daerah-daerah yang majoriti penduduknya Muslim, umat Kristen-Katholik dan Hindu tidak pernah ada pengusiran apalagi pembantaian. Dari daerah-daerah ini pula ancaman dan gertakan memisahkan diri dari NKRI sering dikumandangkan. Ini menunjukkan bahwa non-Muslim (kecuali umat Budha) secara konsisten menebar benih dan memang tidak loyal kepada NKRI.

Seharusnya, pemerintah mendorong tokoh Kristen-Katholik berjiwa besar, dengan mengakui kekeliruan sebagian ummatnya maupun tokoh gereja, yang secara sengaja menjadi aktor intelektual dalam pembunuhan umamt Islam. Permintaan maaf tersebut dilakukan secara terbuka, sehingga terbaca oleh alumni Afghan, insya Allah hal tersebut dapat menyejukkan hati mereka.

Selain itu, aparat juga harus berlaku adil. Dalam menangani kasus Poso yang berkepanjangan, misalnya, untuk operasi pemulihan keamanan yang targetnya pelaku teror dan pembantaian dari pihak Kristen, aparat menggunakan sandi Operasi Cinta Damai. Sedangkan bila hal yang sama ditujukan kepada komunitas Islam, aparat menggunakan sebutan Operasi Raid yang bermakna serbu atau basmi, hal ini mengingatkan kita pada racun pembasmi nyamuk. Ini jelas tidak adil dan sangat provokatif. Setidaknya menimbulkan kegeraman.

Saya yakin mereka tidak bercita-cita jadi teroris. Mereka manusia biasa saja. Namun bila ratusan (atau ribuan) saudara seagamanya dibantai oleh saudara lainnya yang berbeda agama, jelas dan pasti mereka tentu tidak mungkin berpangku tangan. Ke Afghan yang jauh saja mereka siap bersabung nyawa. Apalagi hanya ke Ambon dan Poso. Demikian halnya soal keberanian dalam jihad, saya pastikan bahwa ummat Islam Indonesia memiliki sangat banyak pemuda muslim yang jauh lebih berani dan pintar dari Azahari atau Amrozi cs, apalagi kalau hanya sekedar meletakkan sebuah atau beberapa rangkaian bom di tempat-tempat yang tidak beresiko. Masalahnya, ummat Islam yang potensinya lebih baik tersebut masih diberi kesadaran dan akal sehat, dan yang lebih penting lagi adalah apakah pihak pemerintah punya kepentingan politik untuk menyelesaikan atau tidak?


Jakarta, 7 Nopember 2008



Oleh Umar Abduh
Mantan Napol Woyla



Sumber:

http://swaramuslim.net/



Disusun semula:

Mankip

Sumber kedua
www.terjah.com

No comments:

Post a Comment